Conjugated Linoleic Acid
Asam linoleat terkonjugasi ditemukan sebagai anti karsinogen (anti kanker) oleh ilmuwan Michael Pariza pada tahun 1987. Penelitian tentang CLA terus berkembang yang kemudian CLA dinyatakan dapat berperan dalam membantu menurunkan berat badan, membentuk massa otot, mengurangi resiko penyakit kardiovaskuler, menurunkan kadar kolesterol darah, mencegah inflamasi dan meningkatkan daya tahan tubuh (Pariza et al. 2001; Nagpal et al. 2007; Park 2009). Keunikan efek CLA ini juga diakui dalam laporan National Academy of Science melalui Carcinogens and Anticarcinogens in the Human Diet, yang menyatakan dengan tegas bahwa CLA adalah satu-satunya asam lemak yang dapat menghambat karsinogenesis dalam berbagai penelitian dengan hewan (NRC 1996) meskipun belum bisa sepenuhnya teraplikasi pada manusia (Schmid et al. 2006).
Berbagai studi pada hewan percobaan menujukkan bahwa CLA mungkin dapat menurunkan risiko kanker pada beberapa bagian tubuh seperti payudara, prostat, kolorektal, paru-paru, kulit, dan perut (Park 2009). Penelitian serupa juga menunjukkan bahwa suplemen CLA dapat membantu mengurangi lemak tubuh serta meningkatkan ukuran otot dan kekuatannya. Hal ini dikarenakan kemampuannya untuk mengurangi lemak tubuh dengan meningkatkan sensitivitas insulin agar asam lemak serta glukosa dapat melewati sel otot dan keluar dari jaringan lemak. Inilah yang kemudian menyebabkan peningkatan rasio otot dibandingkan rasio lemak. Dalam hal ini, CLA dalam bentuk suplemen sering digunakan untuk tujuan menurunkan berat badan (Kelly 2001; Eynard and Lopez 2003; Nagpal et al. 2007; Park 2009). CLA juga berpegaruh pada pertumbuhan dan komposisi tubuh serta dapat berpengaruh terhadap media sistem imun, memiliki peran terhadap kesehatan tulang (Park 2009).
Gambar 1 Struktur kimia
dari asam linoleat dan dua isomer asam linoleat terkonjugasi (diadopsi dari Steinhart
1996)
Asam linoleat terkonjugasi (CLA) disintesis pada reaksi antara selama proses biohidrogenasi dari asam linoleat menjadi asam stearat di dalam rumen. Secara umum, mikroorganisme tidak melakukan proses metabolisme secara keseluruhan dari bentuk awal PUFA hingga menjadi produk akhir asam stearat tetapi sebagian saja. Beberapa bakteri rumen, termasuk Butyrivibrio fibrisolvens memiliki kapasitas untuk melakukan isomerisasi rantai ganda cis- pada PUFA menjadi bentuk konjugasi rantai ganda c/t dan menghidrogenasi asam lemak konjugasi ini karena mereka mengekspresikan enzim linoleat isomerase dan CLA reduktase. Produk akhir dari proses tersebut adalah asam trans-vaccenic (t11-18:1) yang dihidrogenasi menjadi asam stearat (18:0) oleh bakteri rumen yang lain (Kepler et al. 1966).
Gambar 2 Proses sintesis CLA cis-9 trans-11pada proses
biohidrogenasi rumen dan D9-desaturase di dalam lemak
ruminan (Bauman et al. 1999)
Seiring dengan penelitian tentang CLA yang telah berkembang dinyatakan pula bahwa CLA dapat terbentuk melalui tiga sumber. Sumber pertama CLA terbentuk selama biohidrogenasi rumen dari asam linoleat (Kepler et al. 1966; Bauman et al. 2003). Sumber kedua, CLA disintesis oleh jaringan hewan dari trans-11 C18:1 dan juga berasal dari proses antara lainnya dalam biohidrogenasi asam lemak tak jenuh (Bauman et al. 1999; Bauman et al. 2003; Khanal and Dhiman 2004). Hal tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara sintesis CLA dengan fungsi rumen namun berbagai data menunjukkan bahwa hanya dalam porsi yang relatif kecil CLA secara langsung diserap dari rumen dan usus halus sehingga harus ada sumber alternatif untuk meningkatkan kandungan CLA dalam susu dan jaringan lemak (Griinari and Bauman 1999). Sumber alternatif lain untuk CLA menurut Bauman et al. (1999); Griinari dan Bauman (1999); Corl et al. (2001); Griinari et al. (2000) didapatkan dari hasil konversi asam transvaccenic endogen dari t11-18: 1 menjadi c9,t11-18:2 oleh Δ9-desaturase dalam jaringan dan kelenjar susu. Proses sintesis CLA dapat dilihat pada Gambar 2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar