detik ini …
saat ujung jemariku berjingkat riang,,
lipatan-lipatan otakku tak mau hentikan parasit di sela labirinnya,,
neuron-neuronku berjalan mundur, kembali ke dencingan menit yang terlalu lampau,,
lamunanku tak tergapai, lamunan yang hanya sekedar lamunan, lamunan menjerumuskan,,
terhentak rumah siputku dihampiri bisikan makhluk Tuhanku,,
dan … mataku terdepak,,
terdepak, hingga terbenam di palung laut terdalam, tanpa balutan cahaya,,
keempat irisan jantungku teremas … retak,,
sesalku tak laku terlelang di pegadaian, tak juga di bawah ketiaknya,,
segelintir rambut kelopakku terus menurun, terbebani ribuan kilauan permata yang terlalu alami,,
aku tak mampu membuatnya kembali tegak, tegar, kembali merekah dihujani liburan musim panas,,
aku tak berdaya tatapi sang surya, hanya terpejam oleh redupan setengah purnama,,
aku tak bisa guyurkan hujan di telanjang tubuhku,,
aku hanya mau menetap di peraduanku,,
terlarangkah itu bagiku ??
meski aku tau akan sirna yang melekat pada kulitku,,
meski aku tau akan terberai gelombang halusku,,
meski aku tau akan tersingkir dari realita yang ada,,
sampai aku benar-benar menapaki lingkaran setan di sekelilingku,,
rapuh auraku.
20080810
rapuh auraku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
1 komentar:
Huhu..theo..
puitis banget c..
Bahasanya tinggi banget
Tak terjangkau otakku..
Hehe..heee...
Posting Komentar